Menghilang dari Netizen, Begini Rasanya Puasa Media Sosial

Ilustrasi media sosial. (Foto: Pixabay.com)

emhate.com Sudah berbulan-bulan saya mencoba untuk berpuasa media sosial. Baik unggah di media sosial Instagram maupun WhatsApp. Namun untuk Facebook, saya sekadar memosting beberapa tulisan yang tayang di Liputan6.com.


Sebenarnya niat untuk puasa media sosial sudah lebih setahun lalu. Sebelum memutuskan puasa media sosial, saya lebih dahulu untuk konsultasi dengan beberapa orang, khususnya adalah mereka yang menjadi mentor saya. Pada umumnya, mereka berpendapat bahwa mau puasa ataupun tidak dalam bermedia sosial, itu tergantung kita dan niat kita. Jika kita mengunggah sesuatu di media sosial dengan niat baik, kenapa harus berhenti?

Dulu pernah beberapa waktu ‘hilang’ dari media sosial. Namun, hati ini selalu tergoda ketika memiliki salah satu postingan yang pas untuk diunggah. Entah itu foto, video, atau bahkan tulisan menarik. Ditambah lagi ketika banyak orang yang melihatnya, membuat saya ingin terus update di media sosial.

Seiring berjalannya waktu, konten yang baru diunggah beberapa jam lalu langsung diturunkan oleh saya. Hingga akhirnya saya berpuasa unggah konten di media sosial seperti Instagram dan WhatsApp. Padahal banyak sekali konten penting yang memang sangat cocok untuk dibagikan ke netizen saya.

Setelah hampir 3 bulan jalannya puasa media sosial, ada banyak hal-hal yang saya dapatkan. Salah satunya membuat saya lebih tenang. Santai menjalani hari-hari dibanding dengan mengunggah konten di media sosial.

Ini perasaan pribadi saya ya. Entah kalau orang lain. Mungkin akan gundah ketika tidak update di media sosial. Namun, saya mencoba untuk ‘menghilang’ sejenak dari permukaan netizen.

Beberapa orang ada yang personal chat. Kebanyakan mereka menanyakan kabar. Saya jawab saja “Alhamdulillah sehat”.

Meskipun saya puasa media sosial, tapi saya suka melihat status-status orang lain di Instagram maupun WhatsApp. Saya tetap melihat aktivitas teman-teman saya di media sosial. Kadang saya memberikan respon kepada mereka.

Saya tidak mengunggah konten di media sosial bukan berarti untuk menutup diri. Saya sekadar ingin ‘menghilang untuk bangkit’. Saya update di blog emhate.com ketika menuangkan pemikiran dan perasaan.

Saya mencoba untuk memperbaiki diri. Tak apa orang bilang apa. Yang pasti, saya tetap ada meskipun tanpa terlihat di media sosial.

Bogor, 23 April 2022

MHT


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Time limit exceeded. Please complete the captcha once again.

You might also like