Bogor Dulu #107

Pagi menjelang siang. Terik mentari kian menyengat. Detik terus berganti. Menongkrong di warung. Kaki selonjoran. Sembari menatap gerbang sekolah yang terbuka setengah. Baru sadar ternyata sudah menjadi alumni, seharusnya lebih dewasa.

Aha… Itulah yang sedang dirasa. Lagi-lagi bingung mau melakukan apa. Setelah mendengar suatu keputusan yang jauh berbeda dari harapan.

Seharusnya Kamis, 20 Mei 2021 pagi saya berlayar, menyeberang lautan ke Indonesia bagian Barat. Berjalan sendiri tak ada yang mendampingi. Untuk sebuah perjalanan kehidupan.

Awalnya sudah direncanakan untuk ke Kampar, Riau. Kampar merupakan lokasi kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bersama 3 mahasiswa IPB University lainnya. Selama 3 bulan kami akan melaksanakan pengabdian masyarakat melalui sebuah website. Namun, rencana itu kandas setelah keputusan (saya) agar melaksanakannya dari Bogor.

Tim kami berjumlah empat orang, dua di antaranya asli Riau. Sementara satu lagi orang Lampung. Saya satu-satunya yang beda pulau di antara mereka. Awalnya sudah siap. Perlengkapan sudah masuk ke dalam ransel. Namun karena persoalan Covid-19, akhirnya ditunda.

Saya berpikir keputusan ini pasti ada hikmahnya. Walau saya harus menjawab orang-orang di sekitar tentang ketidakjadian berangkat ini, sebab beberapa sudah mengetahui bahwa saya akan pergi ke Riau. Memang ada rasa malu karena tidak jadi berangkat, tapi it’s okay. Ini adalah suatu tantangan yang harus saya hadapi.

Saya yakin bahwa keputusan ini adalah jalan terbaik. Mungkin saya harus bersilaturahmi dulu, karena pada hari ini juga ada acara halal bi halal. Kalau pun nanti jadi berangkat, insya Allah itu juga akan menjadi keputusan terbaik.

Sejatinya kita harus pandai merespon segala sesuatu yang terjadi dengan cara terbaik. Saya sedang berusaha mampu merespon setiap keadaan dengan positif.

Dulu pernah mengikuti suatu seminar yang menghadirkan trainer. Seorang trainer itu dihadapkan dengan kondisi di luar perencanaan. Dia lupa membawa kabel HDMI untuk menyambungkan laptopnya ke proyektor. Akhirnya dia harus menunggu beberapa waktu.

Sembari menunggu, daripada waktu terbuang sia-sia ia memutuskan untuk memulai pembicaraannya. Ia tak terbebani walau pendukungnya presentasinya tidak berjalan dengan baik. Bahkan, dia mampu menciptakan suasana menjadi senang, sedih, hingga kembali ke senang. Setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya proyektor dapat menampilkan layar dari laptop.

Pesannya seperti tadi yang saya sampaikan bahwa kita harus mampu merespon di setiap keadaan. Kapan pun dan di mana pun. Sebab, keadaan terjadi kadang kala tidak sesuai dengan harapan. Semoga bermanfaat.

Bogor, 20 Mei 2021
MHT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Time limit exceeded. Please complete the captcha once again.

You might also like