Antara Covid-19, Kebijakan, dan Macet #104

Pemerintah telah membuat kebijakan larangan mudik lebaran 1442 H. Tujuannya berkaitan dengan kesehatan, untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Analoginya, jika pemudik dari kota membawa Covid-19, kemudian menyebar ke sanak keluarganya, akhirnya kena satu keluarga besar.
Hal itu  akan berhasil jika semua elemen bekerja sama dan bertindak adil. Namun, pemerintah sempat mengeluarkan kebijakan membuka wisata di tengah larangan mudik. Walaupun dibatasi dan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19, kebijakan tersebut dinilai tidak adil. Sebab, wisata juga kalau menggunakan analogi yang tadi bisa menjadi klaster penyebaran Covid-19.
Selepas itu, mendekati lebaran pemerintah se-Jabodetabek sepakat untuk menutup tempat ziarah. Kebijakan ini pun menuai pro kontra dari berbagai kalangan masyarakat, karena aktivitas ziarah sudah menjadi rutinitas dilakukan seusai lebaran.
Hemat saya, kebijakan pemerintah dinilai labil. Belum bisa tegas dan teguh pada pendirian. Apakah memang ada ‘praktik’ di belakang layar? Atau ini benar-benar keinginan pemerintah?. 
Dari hasil pengamatan, kondisi di tengah masyarakat mulai seperti semula. Masyarakat sudah mulai melakukan aktivitasnya kembali. Mereka berpikir, “kalau di rumah saja keluarga mau makan apa?”. 
Masyarakat di Indonesia itu beragam. Beberapa masyarakat ada yang bisa menghasilkan uang walau di rumah saja, tapi tidak untuk yang mencari nafkah harus keluar. Misalnya jasa mengantar (ojeg), bangunan, dan lain sebagainya. Kecuali kalau pemerintah 100 persen membiayai keluarga mereka. Mereka bisa di rumah saja.
Sekarang masyarakat sudah tahu tentang masker bahwa kalau keluar rumah harus memakai masker. Namun, penggunaan masker juga ada dua kategori. Pertama karena kesadaran akan bahaya Covid-19, kedua karena tuntutan (takut aparat penegak protokol kesehatan Covid-19). 
Menurut saya, ini harus dievaluasi. Seharusnya masyarakat menggunakan masker karena kesadaran, bukan karena tuntutan.
Saya pernah melihat. Ketika di jalan sebelum ada aparat, masker dibuka saja. Sementara ketika ada razia masker mulai dipakai. Ini kan karena tuntutan. Coba kalau karena kesadaran, ada aparat ataupun tidak, masyarakat tetap menggunakan masker.
Kembali lagi ke kebijakan larangan mudik. Apakah kebijakan itu berhasil? Menurut saya, beberapa memang berhasil. Namun, banyaknya kurang berhasil. Saya akan membeberkan hasil pengamatan di Puncak Bogor.
Saat hari H lebaran Idul Fitri, jalanan tidak terlalu ramai. Aparat masih bisa mengendalikan penyekatan mudik di lampu merah Gadog. Bagi kendaraan dari luar Bogor tidak bisa masuk ke Puncak. Aparat memutar balikkan kendaraan tersebut.
Akan tetapi, saya melihat ada kendaraan pelat B yang dikawal oleh polisi. Prasangka baik saja, mungkin memang ada tujuan penting yang lain sehingga harus memasuki jalur Puncak.
Memasuki hari kedua, volume kendaraan mulai meningkat. Aparat masih terus melakukan penyekatan. Sayangnya penyekatan tersebut hanya di lampu merah, sementara di jalan-jalan tikus terbuka begitu saja.
Akhirnya, kendaraan berpelat luar Bogor melewati jalan tikus dengan jasa ojeg. Kalau yang dari Bogor jalan tikusnya bisa melalui Katulampa keluar di Pasir Angin Gadog. Dari Jakarta bisa melalui Sentul lewat Gunung Geulis keluar di Pasir Angin Gadog. Kalau arahnya dari Sukabumi bisa lewat Jalan Veteran Ciawi ataupun Bendungan yang keluar di Cisarua (bisa di Citeko, Hankam, Cipayung, dan lain-lain).
Sempat saya melihat, dua mobil jasa jalan tikus bisa mencapai 200 ribu. Tukang ojeg ada penghasilan tambahan selain membawa penumpang.
Banyak orang tahu bahwa ke Puncak ada banyak jalan tikus. Mereka mulai menggunakan jalan tikus tersebut. Akhirnya di jalan tikus macet. Ruas jalan kecil dan volume kendaraan tinggi adalah penyebabnya.
Kemacetan parah pernah terjadi di dekat rumah saya, Pasir Angin Gadog. Mobil maupun motor susah keluar masuk. Saya perhatikan banyak kendaraan berpelat selain F Bogor. Tidak tahu tujuannya apa, entah wisata atau mudik. Hal itu terjadi saat lebaran ketiga. Walau di hari ketiga ini aparat sudah bertugas di persimpangan jalan tikus.
Saya berdoa, semoga Covid-19 segera berakhir di negeri yang kita cintai ini. Teruntuk masyarakat mari kita patuhi protokol kesehatan Covid-19 dengan penuh kesadaran. Nampaknya ke depan persoalan Covid-19 akan menjadi fenomena biasa bagi masyarakat. Seperti halnya virus-virus yang pernah menjadi pandemi pada masanya.
Bogor, 16 Mei 2021
MHT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Time limit exceeded. Please complete the captcha once again.

You might also like